Perpustakaan NUS
Rabu, 24 Februari 2016
SG, 20 Oktober 2015
SG, 19 Oktober 2015
Disiplin
Hari pertama aku bersama Putri memulai aktifitas di Singapura. Pagi
ini Hanif, salah satu mahasiswa NUS menjemput kami ke flat, tempat
tinggal kami selama di Negeri macan putih ini. Bersama kami berjalan menuju
halte menunggu bus datang. Sempat
kupandangi sekitar, jalanan yang begitu bersih nan tertata. Bangunan flat
tempat tinggal tinggi menjulang. Rerumputan hijau terawat. Hanif banyak
berbincang mengenai beberapa peraturan dan kebiasaan yang ada di Singapura.
Diantaranya, naik kendaraan umum bus dan kereta listrik atau yang disebut MRT
menggunakan kartu yang disebut Ezlink. Kartu ajaib sepertinya, karena
selain untuk transportasi, ezlink juga dapat digunakan untuk masuk ke
taman wisata Sentosa.
Kami membeli ezlink seharga dua puluh empat dolar dengan isi
sebanyak tujuh dolar. Di kota ini, tak terhitung banyaknya eskalator
pada setiap tempat. Ketika berada di eskalator, barisan kiri merupakan
barisan orang-orang yang hanya diam berdiri, sedang barisan kanan khusus bagi
pengguna yang berjalan. Saat menunggu MRT datang, antrean tertata rapi di
pinggir pintu masuk MRT, jalan tengah pintu dikosongkan untuk pengguna yang
akan turun dari MRT. Penumpang MRT akan turun terlebih dahulu, kemudian
penumpang selanjutnya dipersilahkan naik.
Tak ada istilah menyetop kendaraan umum disembarang tempat. Semua
tersedia tempat masing-masing. Halte bus, halte taxi, maupun stasiun.
Disediakan juga tempat penyebrangan jalan. Pada tiang rambu lalu lintas, kita
dapat memencet tombol penyebrangan. Ketika lampu hijau tanda penyebrangan
menyala, kita dapat menyebrang dengan aman tanpa perasaan was-was. Pada
jalan-jalan tertentu terdapat zebra cross yang difungsikan dengan baik.
Ketika kita menyebrang menggunakan zebra cross, kendaraan yang sedang
melaju segera berhenti mengutamakan pengguna jalan.
Tak tampak sedikitpun
sampah yang berserakan. Budaya antre menjadi budaya yang patut diteladani. Tak
ada makan minum dalam kendaraan umum. Begitupun masih banyak kebiasaan baik lain
yang dapat melatih diri untuk hidup jujur dan teratur.SG, 18 Oktober 2015
Keberangkatan
Hari keberangkatanku dengan seorang teman bernama Putri ke NUS
(National University of Singapore) berbekal niat belajar begitupun doa restu
orang tua, guru dan teman-teman kami berangkat menuntut ilmu ke negeri maju,
Singapura. Tepat pukul 05.00 kami berangkat dari Malang menuju bandara Juanda
Surabaya. Kami berangkat dengan maskapai Tiger Air, dengan jadwal
penerbangakatan pukul 10.10 WIB.
Begitu banyak nikmat Tuhan yang sepatutnya disyukuri. Kami sampai Changi
Airport dengan selamat pukul 13.15 waktu setempat. Tiba di bandara sempat
bingung apa yang harus dilakukan. Kami hanya mengikuti orang-orang yang
berjalan lurus kemudian mengisi formulir guna pemeriksaan embarkasi/migrasi. Dalam
blanko, terdapat kolom alamat tinggal yang kami tidak punya. Kami segera menelepon
bapak Suhami, tuan rumah yang akan kami singgahi selama di Singapura. Sedikit
bermasalah dengan prosedur embarkasi di Changi Airport. Kesalahan yang
kami lakukan adalah tidak membawa surat pengantar dari sekolah bahwa memang
kami student exchange yang akan belajar selama dua minggu di Singapura.
Dengan sedikit berbelit-belit akhirnya kami dapat keluar dari bandara Changi dengan alasan singkat. “Ibu petugas yang
terhormat, Ibu Elsya, tuan rumah yang
menjemput kami hari ini sudah menunggu lama di ruang tunggu.”
Tuhan, izinkan aku memulai cerita.
Senin, 12 Oktober 2015
Memoar Jogja
Ditertawakan Buku
Bumi berputar. Selalu ada cerita baru dalam dunia baru. Praktek
Kerja Lapangan (PKL) di kota Yogyakartata yang belum genap kuselesaikan menyisihkan
banyak kenangan. Memang benar yang tertera pada palng-plang deretan kota, “Yogya
istimewa.”
Pagi itu aku bersama lima belas teman kelompok nekat berkunjung ke
candi Prambanan. Menilik sejenak budaya dan sejarah yang lestari di kota ini.
Sejarah, ya masih ingat petuah seorang guru “salah satu pemicu sukses adalah
tidak lupa dengan sejarah.
Trans jogja atau familiar disingkat TJ adalah satu-satunya
kendaraan umum yang pas untuk kalangan buta peta Jogja seperti kami, atau lebih
tepatnya sepertiku. Kami menunggu TJ di halte “diklat PU”. Karena bangku Halte
penuh, aku terpaksa berdiri menyandar pada dinding kaca halte. Sempat kuamati pemandangan
sekitar. Tampak dua penjaga halte yang bertugas mengenakan seragam hijau tua
corak hitam. Sepertinya hijau menjadi warna andalan perusahaan trans Jogja ini.
Petugas pertama sibuk melayani para penumpang yang terus berdatangan. Sedang petugas
ke dua berdiri menyandar pada dinding halte mengawasi keadaan sekitar dengan koran
ditangannya. Sesekali matanya awas pada sekeliling, namun banyak kali akhirnya
ia asyik dengan Koran yang ditentengnya. Tidak tau apa yang sedang ia baca,
yang aku tau betapa pekerja biasa sempatkan diri menambah ilmu dengan membaca
disela-sela jam kerjanya.
Kualihkan pandangan pada calon penumpang yang juga berdiri di ujung
halte. Pria berkacamata dengan ransel hitam. Stylenya biasa, namun yang
menarik adalah koran ditangannya. Sepertinya daripada otak-atik gadget
seperti pada umumnya ia lebih tertarik dengan ragam berita di Koran.
Kuperhatikan ia nampak teliti melihat seluruh sudut koran. Kuterka sepertinya
ia sedang memilih topik menarik untuk dibaca.
Selang beberapa menit TJ datang. Satu persatu kami naik TJ. Nasib
berdiri berpihak padaku dan sebagian teman teman lain. Butuh tiga kali transit
dari halte Diklat PU untuk sampai ke halte Prambanan. Pada Transit yang ke tiga
akhirnya aku duduk tidak jauh dari pak sopir. Ku perhatikan gaya sopir memegang
kemudi sambil sesekali melihat padatnya keramaian Yogyakarta. Waktu itu, ntah
di jalan apa namanya lampu merah menyala. TJ kami ikut berhenti. Ini tentu hal
biasa. Tapi yang lain dari kebiasaan adalah pak sopir meraih koran dan
menyempatkan diri membacanya sambil menunggu lampu merah berganti warna.
Inikah yang disebut kota pelajar? Bahkan yang belajar bukan hanya
pelajar. Pekerja dengan segenap kesibukannya juga menyempatkan diri untuk
belajar. Lalu bagaimana denganku? Dengan status mahasiswa di kedua pundakku. Alangkah
banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa ada nutrisi baru untuk akal. Dunia
membaca. Betapa malunya aku ditertawakan banyak buku, Koran dan bacaan lainnya
yang selama ini kusia-siakan.
Afini. Jogja, 13 Agustus 2015
Langganan:
Postingan (Atom)
